Biasakan Olahraga Pagi Agar Karir Cepat Tinggi
Jakarta, Bukti ilmiah yang menunjukkan manfaat berolahraga pagi secara teratur telah banyak diketahui. Meskipun demikian, kebanyakan orang masih enggan menerapkan kebiasaan sehat ini. Padahal, olahraga pagi terbukti mampu mendongkrak karir dan produktivitas.
Sepanjang tahun 2011 saja, hanya sepertiga dari pria dan wanita berusia 25 - 64 tahun di Amerika Serikat yang melakukan olahraga secara teratur. Olahraga secara teratur dalam taraf ringan sampai sedang sudah baik jika dilakukan selama 30 menit sebanyak lima kali seminggu. Sedangkan olahraga berat sebaiknya dilakukan selama 20 menit tiga kali seminggu.
Dalam sebuah buku yang berjudul 'Wellbeing: The Five Essential Elements', sang penulis, Tom Rath dan Jim Harter, meneliti kualitas dan kebiasaan yang mempengaruhi tingginya tingkat kesejahteraan sosial, karir, keuangan, fisik, dan kehidupan. Ketika memeriksa kebiasaan sehari-hari yang berperan dalam kesejahteraan fisik, olahraga pagi terbukti paling mempengaruhi. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga pagi selama 20 menit dapat meningkatkan mood selama berjam-jam sesudahnya.
"Sangat mudah memang untuk menunda sesuatu. Tetapi ketika berolahraga pagi, kebanyakan orang melakukannya karena menyadari bahwa berolahraga di pagi hari membuat suasana hati menjadi lebih baik sehingga menjadi lebih produktif dan memiliki lebih banyak tenaga sepanjang hari. Orang yang memiliki tingkat kesejahteraan tinggi bekerja lebih awal di pagi hari dan mengurangi makanan berat di siang hari," kata Rath seperti dilansir US News, Selasa (13/3/2012).
Di sisi lain, menunda berolahraga dapat mengganggu tidur. Tidur sangat penting untuk kesehatan fisik, psikologis dan produktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga berat setelah tidur 2 jam bisa merusak kemampuan tubuh untuk tertidur. Dan selepas bekerja sepanjang hari, kebanyakan orang hanya memiliki beberapa jam sebelum tidur yang dapat dimanfaatkan untuk berolahraga.
"Orang yang berolahraga di pagi hari lebih mungkin menjadikannya sebagai kebiasaan karena hanya sedikit berbenturan dengan jadwal harian yang bisa mengganggu rutinitas berolahraga," kata Julia Valentour, ahli fisiologi olahraga dan koordinator program di American Council on Exercise.
Waktu terbaik untuk berolahraga juga sebaiknya waktu yang paling tepat untuk mudah ditepati. Orang yang tidak sering bangun pagi akan lebih sulit berolahraga sehingga jauh lebih mudah menundanya. Penelitian menunjukkan bahwa latihan yang paling produktif terjadi ketika suhu tubuh sedang tinggi-tingginya, biasanya di sore hari.
"Berolahraga pada suhu tubuh sedang tinggi menghasilkan banyak kekuatan, kinerja yang lebih baik, otot-otot yang lebih hangat, lebih fleksibel dan laju jantung lebih rendah. Tapi satu-satunya masalah adalah kebanyakan orang bekerja sampai sore hari," kata Valentour.
Sumber Putro Agus Harnowo - detikHealth
Kebiasaan Gemeretak Jari Tangan Bikin Kecanduan
Jakarta, Saat merasa lelah, bosan atau gugup, tidak sedikit orang yang suka menggemeretak atau membunyikan jari-jari tangan. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut ternyata membuat orang kecanduan dan melakukannya berulang-ulang dalam sehari. Apa penyebabnya?
Anda mungkin tidak ingat kapan pertama kali mulai menggemeretak jari tangan, tapi kebiasaan tersebut sudah membuat Anda kecanduan dan tidak bisa berhenti.
"Ilmu pengetahuan sulit untuk menjelaskan mengapa kebiasaan ini begitu adiktif, tapi banyak orang berspekulasi itu salah satu kegiatan yang melepaskan energi gugup," kata Dr Rachel Vreeman, asisten profesor di Indiana University School of Medicine, seperti dilansir MSNBC, Selasa (13/3/2012).
Seperti halnya kebiasaan memilin rambut dan menggoncangkan kaki, banyak orang yang membunyikan jari-jari tangan merasakan sensasi nyaman dan enak, bahkan beberapa merasakan pelepasan energi negatif dan rasa lelah.
Berbahayakah kebiasaan tersebut?
Bunyi 'krek' saat membunyikan jari tangan bukanlah bunyi retakan tulang atau sendi. Menurut Dr Vreeman bunyi tersebut berasal dari gelembung gas pada rongga yang berisi cairan sinovial, yaitu cairan di sekitar sendi.
Sejumlah tekanan tertentu akan membuat gelembung tersebut pecah dan membuat suara yang terdengar seperti plastik gelembung (bubble wrap) yang diletuskan.
"Tak heran kedua kegiatan ini sama-sama memuaskan," ujar Dr Vreeman.
Meski banyak yang mengatakan kebiasaan ini berbahaya, namun Dr Vreeman mengatakan bahwa menggemeretakkan jari tangan bukan penyebab terjadinya artritis (infeksi dan nyeri pada sendi).
Studi tentang fungsi tangan pada orang dewasa dengan dan tanpa artritis menunjukkan bahwa orang dengan artritis tidak lebih banyak yang punya kebiasaan menggemeretak jari tangan.
"Ini tidak tampak seperti Anda mendapatkan artritis karena punya kebiasaan membunyikan jari tangan," jelasnya.
Namun, kebiasaan menggemeretak jari mungkin menyebabkan beberapa ketidaknyamanan tangan, termasuk bengkak, kekuatan tangan berkurang dan bahkan beberapa cedera jari atau sendi.
Sumber Merry Wahyuningsih - detikHealth
Sering Pakai Celana Jeans, Apakah Bisa Bikin Kanker?
Dok, saya remaja yang sering beraktifitas di luar ruangan untuk berbagai esktrakurikuler. Aktifitas itu terkadang membuat saya latihan di bawah terik matahari. Apakah bisa berbahaya pada kulit jika terlalu lama di bawah terik matahari? Apakah hanya menimbulkan efek iritasi pada kulit atau bahkan hingga terjangkit kanker kulit? Bagaimana menyiasati hal tersebut?
Menurut literatur yang saya baca, jika kita terlalu sering menggunakan celana berbahan jeans itu juga akan berbahaya untuk kulit kita dan bisa kanker? Apakah benar? Mohon penjelasannya Dok? Terimakasih
Yuni (Perempuan Lajang, 17 Tahun), yuniXXXX@yahoo.com
Tinggi Badan 155 Cm dan Berat Badan 45 Kg
Jawaban
Salam Sdri Yuni.
1. Berada terlalu lama di bawah terik matahari, selain tidak baik untuk kulit Anda juga bisa berakibat buruk pada kesehatan dan kecantikan anda. Jika harus berada lama melakukan aktivitas diluar ruangan atau di bawah sinar matahari, disarankan untuk memakai pelindung.
2. Salah satu penyebab kanker kulit adalah sering berjemur di bawah terik sinar matahari tanpa ada perlindungan apapun, namun itu bukan penyebab utama kanker kulit. Penyebab lain bisa karena sinar X, radiasi thermal atau sering berkontak langsung dengan benda benda kimia berbahaya. Hal ini dapat memicu infeksi pada kulit, dan besar kemungkinan menjadi kanker bila tumbuh tumor dibagian kulit epidermis.
Menurut pengalaman kami, paling banyak penderita kanker kulit adalah orangtua berusia lanjut dan kebanyakan pria daripada wanita. Namun Anda tetap harus lebih waspada.
3. Sering menggunakan celana jeans tidak menyebabkan risiko kanker kulit, namun kebiasaan menggunakan celana jeans yang ketat dapat membuat tubuh Anda tidak nyaman dan bisa memicu berbagai masalah pada Miss V Anda.
Prof. Dr. Li Yuan Zhong
Adalah dokter di Rumah Sakit Modern Hospital Cancer, Guangzhou yang merupakan rumah sakit swasta yang telah diakui Departement Kesehatan Pemerintah China, dibawah naungan yayasan group 'Bo Ai'.
Pusat konsultasi cabang di Jakarta ada di RS Awal Bros, Jln MH Thamrin No.3 - Kebon Nanas Cikokol Tangerang, Phone: 021-99933380 , 021-92088881, 0818197758 atau cabang Surabaya di Jl HR Muhammad 75A Surabaya, dan no telp 031-7315222.
Sumber Detik health
Makin Tinggi Sekolahnya Makin Kuat Tahan Sakit
Jakarta, Ketika mengalami kecelakaan dan harus dibawa ke rumah sakit, pasien biasanya diberikan obat-obatan untuk menahan rasa sakit. Orang-orang yang berpendidikan tinggi dengan penghasilan yang lebih besar umumnya dianggap lebih membutuhkan obat penahan rasa sakit ini. Tapi ternyata justru sebaliknya.
Para peneliti dari Department of Anesthesiology, University of North Carolina menemukan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan, makin sedikit rasa sakit yang dirasakan. Di saat yang sama, makin banyak penghasilan yang diperoleh, maka obat penahan sakit yang digunakan juga makin sedikit.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pain ini mencoba menghubungkan antara sensasi rasa sakit, kebutuhan akan obat pennghilang rasa sakit dengan status sosial ekonomi. Dengan menganalisis data 690 orang pasien kecelakaan mobil berusia antara 18 - 65 tahun di 8 rumah sakit yang berbeda, para peneliti menilai kondisi sosial ekonomi pasien dan meninjau pendapatan serta tingkat pendidikannya.
Penelitian menyimpulkan bahwa pasien yang lebih terdidik lebih sedikit merasakan sakit dan lebih tidak takut mati. Pasien yang lebih terdidik juga lebih subjektif dalam mengekspresikan rasa sakitnya dan tidak membesar-besarkan rasa sakit. Hasilnya, mereka lebih sedikit mendapat obat penghilang rasa sakit atau analgesik.
"Penelitian kami menyimpulkan bahwa pendidikan yang tinggi bukan hanya berarti tingkat penghasilan yang lebih tinggi, tetapi juga berarti lebih jarang mengeluh tentang penyakitnya," kata peneliti, Timothy F. Platts-Mills seperti dilansir epharmapedia.com, Senin (12/3/2012).
80 persen pasien mengaku merasakan nyeri dalam taraf sedang sampai berat. Para petugas medis di IGD meresepkan penghilang nyeri untuk 54 persen pasien lulusan SMA. Sedangkan pasien lulusan universitas yang diresepkan obat penghilang rasa nyeri hanya sebesar 10 persen.
Dalam sampel penelitian, pasien yang lebih berpendidikan ditemukan lebih sedikit menerima suntikan obat bius. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggeneralisasi temuan ini dan menentukan hal yang menyebabkan perbedaan tersebut.
Sumber Putro Agus Harnowo - detikHealth
Baca selengkapnya......
Sehatkah Makan Ikan Setiap Hari?
Jakarta, Saya punya hobi setiap hari selalu makan ikan, karena sudah jadi kebiasaan dari kecil. Pertanyaan saya, sehatkah makan ikan setiap hari? Apakah ada efek buruknya? Terimakasih.
Qosim (Laki-laki Lajang, 21 Tahun), qosimXXXX@ymail.com,
Tinggi Badan 169 Cm, Berat Badan 55 Kg
Jawaban
Halo Qosim,
Ikan adalah salah satu sumber protein yang baik karena mengandung asam lemak tak jenuh dan juga merupakan sumber omega-3. Akan tetapi dengan seiring berkembangnya pengetahuan akan ikan, tidak disarankan untuk memakan ikan laut (terutama ikan laut dalam) setiap hari karena mengandung merkuri dan metal lainnya yang menjadi polusi laut.
Merkuri dan metal yang tertimbun dalam ikan tidak dapat hilang dengan proses dimasak. Jenis-jenis ikan yang dikategorikan mengandung merkuri tinggi termasuk swordfish, ikan hiu, mackerel, tuna dan kerapu.
Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Menjadi Orang Tua Paling Tepat Saat Usia 30-an Tahun
California, Makin kerasnya tuntutan ekonomi saat ini membuat beberapa pasangan lebih memilih mempunyai anak di usia tua. Kebanyakan orang yang memiliki anak pertama saat mencapai usia 40 tahun berpendapat bahwa waktu terbaik untuk punya anak adalah 5 - 10 tahun sebelumnya.
Peserta penelitian menyatakan bahwa menjadi orang tua di usia senja memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan kerugian. Tetapi ketika ditanya mengenai usia optimal untuk memiliki anak, 80% perempuan dan 70% laki-laki menjawab di usia 30-an. Kebanyakan di antara mereka mengaku bahwa keadaan lah yang menghalangi mereka untuk dapat memiliki anak di usia 30 tahun.
Penelitian ini dilakukan oleh University of California, San Francisco terhadap 107 orang kulit putih yang telah menikah dengan tingkat pendapatan menengah ke atas. Para peneliti mengatakan bahwa untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya mencakup kelompok yang lebih beragam dan harus menindaklanjuti orang tua yang anaknya telah mencapai usia remaja.
Peneliti mewawancarai 46 pasangan dan 15 wanita lajang yang telah menggunakan prosedur bayi tabung agar dapat hamil untuk pertama kalinya saat berusia 40 tahun lebih. Pengguna prosedur bayi tabung dipilih karena kebanyakan di antaranya memiliki kemungkinan hamil yang sangat kecil. Para peserta diberi pertanyaan mengenai apa keuntungan dan kerugian menjadi orang tua pada usia yang relatif senja.
"Sebagian besar wanita dan pria dalam penelitian yakin bahwa menunda mengasuh anak memiliki lebih banyak keuntungan bagi mereka dan keluarga," kata para peneliti seperti dilansir FoxNews, Senin (12/3/2012).
Menurut 72% wanita dan 57% pria peserta penelitian, keuntungan terbesarnya adalah lebih siap secara emosional untuk menjadi orangtua. Keuntungan lainnya adalah mencapai karier yang tinggi, fleksibilitas dalam pekerjaan, keamanan finansial yang lebih besar dan hubungan dengan pasangan atau keluarga yang lebih kuat.
Dalam artikel yang dimuat jurnal Human Reproduction, beberapa pria mengatakan menjadi orang tua tua pada usia yang lebih tua membuat mereka memiliki lebih banyak waktu sebagai orangtua daripada ketika masih muda. Namun perempuan cenderung mengatakan bahwa mereka ingin memiliki anak lebih awal dan bertemu pasangannya lebih cepat.
Para peserta juga mengatakan bahwa mereka yakin akan memiliki lebih banyak energi sebagai orangtua jika masih muda. Lebih dari sepertiga wanita dan seperempat pria dalam penelitian mengatakan kerugian menjadi orang tua ketika usia senja adalah berkurangnya kekuatan fisik.
Kerugian lain adalah khawatir akan kondisi kesehatannya sehingga dapat hidup cukup lama untuk melihat anak-anaknya menjadi dewasa dan memiliki keluarga yang lebih kecil daripada yang pernah diimpikan.
"Menjadi orang tua di usia 30-an menggambarkan adanya kompromi antara manfaat finansial dan emosional menjadi orangtua di usia tua dan kerugian karena berkurangnya energi fisik," kata peneliti.
Sumber Detik Health
Daftar Emoticon di Blackberry Messenger
Chatting di BBM memang menyenangkan, tambah menyenangkan lagi bila kita bisa menambahkan berbagai emoticon atau simbol-simbol lucu saat chatting di BBM. Jika kamu ingin menambah Emoticon di BBM, cara terbaik dan tercepat adalah dengan menggunakan fungsi Auto Text yang secara default telah tersedia di Blackberry. Caranya :
• Pertama tentu saja cari simbol-simbol atau emoticon lucu di Internet, setelah itu kirimkan emoticon tersebut ke Blackberry kamu, entah lewat email atau sarana koneksi lainyanya, misal Bluetooth.
• Setelah simbol atau emoticon tersebut ada di BB kamu, kemudian buatlah Auto Text untuk emoticon tersebut. Masuk ke [Option] – [Auto Text] masukan emoticon sesuai dengan keinginan kamu.
• Jadi saat anda chatting di BBM dan ingin tampil lebih lucu dan gaya, tinggal mempergunakan Auto Text yang telah dibuat.
Rahasia Sikap Mental Pengusaha
Banyak orang yang mencoba untuk berwiraswasta, tak semuanya berhasil. Pendiri Grup Saratoga dan Recapital Sandiaga Uno menceritakan rahasia suksesnya.
Pengusaha muda yang juga orang terkaya nomor 27 di Indonesia ini menekankan bahwa sikap mental adalah modal utama bagi calon pengusaha. Sikap mental ini harus dimiliki pengusaha dan calon pengusaha yang ingin berhasil.
Pertama, seorang wirausahawan harus punya pola pikir seperti pengusaha. "Mereka harus punya paradigma yang positif dan optimis," kata Sandiaga saat ditemui Yahoo! di kantornya, 26 April lalu.
Sandiaga sendiri mulai berwiraswasta setelah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja pada 1997. Untuk memulai usaha, modal bukan hal yang dinilai penting oleh Sandiaga. Tabu baginya untuk berkata "saya mau mulai berusaha tapi tak ada modal".
"Kuncinya adalah kemauan. Begitu kemauan ada, harus ada keberanian," kata dia. Keberanian tersebut akan menjadi modal yang paling utama dengan dukungan ide, rencana mencapai kesuksesan, kemampuan berjejaring dan kepercayaan dari kolega bisnis.
Dengan rangkuman bisnis yang solid tersebut, Sandiaga percaya, bukan pengusaha yang akan mencari modal melainkan modal yang akan menghampiri. Saat mengawali usahanya, Sandiaga mengakui bahwa menjalin usaha memang sangat sulit. Pernah selama enam bulan dia tak mendapatkan satu klien pun. "Sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari investor," kata dia.
Seorang pengusaha juga harus mengubah paradigmanya, bukan lagi sebagai karyawan yang menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan. Kondisi terjamin itu membuat karyawan tak suka mengambil risiko. Padahal, seorang pengusaha harus berani mengambil risiko.
"Pengusaha jatuh bangun karena bisnis memang penuh risiko," kata dia. Sandiaga menekankan bahwa kesuksesan tak pernah instan. Kesuksesan hanya dapat dicapai dengan kerja keras dan pantang menyerah.
by Yahoo news
Cara mengetahui blackberry bajakan atau tiruan
Kamu akan membeli sebuah Blackberry? lalu bingung karena tidak mengetahui bagaimana sih Blackberry yang asli itu? Jangan-jangan nanti yang kamu beli adalah Blackberry tiruan seperti yang banyak beredar saat. Bentuknya, sangat mirip dengan Blackberry asli tapi ternyata hanya handphone buatan Cina. Nah tips berikut adalah cara membedakan antara Blackberry Asli dengan Blackberry Tiruan atau aspal (Asli palsu).
1. Langkah pertama adalah cek PIN dan IMEI. Blackberry Tiruan tidak akan mempunyai nomor PIN. Pada Home Screen klik Option dan pilih Status (tekan SHIFT+ALT+H), IMEI dan PIN BB Asli akan sama bila dicocokan dengan yang tertera di DUS.
2. Klik Options-Status dan ketik BUYR, pada Blackberry Asli dan baru, akan menampilkan angka nol yang berarti bahwa Blackberry tersebut belum pernah dipakai. Jika menampilkan angka seperti Voice Usage Exeeding 15 Minutes, BB tersebut asli namun sekon alias pernah dipakai. Pada Blackberry Tiruan tidak ada menu seperti ini.
3. Blackberry tiruan tentu saja tidak akan bisa ditambah Aplikasi Blackberry dari Blackberry App World bahkan aplikasinya cenderung tidak bisa dirubah (ditambah atau dikurangi).
4. cek daftar contact sama memori. klo ada isinya, padahal anda baru beli tu BlackBerry, berarti udah sangat jelas tu barang hasil rekondisi.
5. BlackBerry yang baru pertama kali dinyalain, bakal makan waktu yang lama, mungkin sekitar 5 menit. pertama kali akan langsung diarahin ke SETUP WIZARD.
6. Perhatikan Logo dan Dus
Dus Blackberry biasanya mencantumkan stiker identitas handheld dan hak paten. Biasanya ada logo operator seluler berbagai negara. Meski terdapat logo lain negara, jangan khawatir karena Blackberry masih bisa dipakai bila koneksi tak terkunci alias unlock.
7. Ingat, logo di layar LCD saat nyala pertama kali harus sama dengan logo yang ada di body.
8. Bila Anda mendapatkan Blackberry dari luar negeri, pastikan barang yang Anda pegang sudah unlocked alias tidak terkunci. Untuk memastikan hal tersebut,pertama silahkan cek untuk status Sim card Networknya dengan masuk ke Option>advanced option>SIm card>ketik MEPD,apabila Status dari SIM terSebut active maka handheld tersebut masih LOCK dan apabila status SIM tersebut Disable maka Handheld tersebut sudah Unlocked dan kedua masukkan kartu seluler dari operator lokal dan coba menelpon dan menerima telpon dengan handset tersebut. Bila semua berjalan lancar, berarti Blackberry tersebut bebas digunakan dengan kartu seluler apapun.
9. Coba baui Blackberry yang baru Anda beli. Blackberry yang benar-benar baru biasanya mengeluarkan aroma metal bercampur kulit. Aromanya sangat khas. Jangan ragu-ragu meminta tolong teman yang sudah memiliki Blackberry bila Anda adalah pengguna pertama Blackberry.
Okey sekian tips dan trik dari saya semoga bisa membantu..
Blackberry Vs Android
Semakin sengit persaingan pada gagdet pada era sekarang yang didukung semakin banyaknya smartphone yang membanjiri pasar gagdet di tanah air, setelah sekian lama blackberry berangkat menjadi terpopuler ditanah air,dan sekarang di usungnya android yang digawangi oleh google mulai membisikan aura positif bagi para maniak gagdeter ditanah air,dengan fitur yang android tawarkan menjadikan para gagdeter tanah air makin tergiur dengan hadirnya gadget yang berbasis android ini.
Apa yang membuat Blackberry menjadi incaran banyak pengguna ponsel Indonesia?
Disamping fasilitas push emailnya, maka fasilitas yang menarik adalah adanya Black Berry Mesengger (BBM). Fitur BBM ini begitu nikmat ketika ada fitur Grup BBM yang begitu nyaman dipakai sebagai ruang bicara antar kelompok yang punya minat pada hal yang sama. Kelemahan grup ini adalah pada kapasitas anggotanya yang maksimal hanya bisa 30 pengguna. Pada beberapa kasus anggota grup BB ini ada yang bisa mencapai 31.
Yang paling menarik sebenarnya adalah kemampuan BB dalam melakukan kompresi data, sehingga semua menjadi terasa lebih cepat ketika melakukan pertukaran data memakai BB.
Di Indonesia kemampuan kompresi ini menjadi pilihan menarik karena tanpa banyak menunggu lama, maka data yang dibutuhkan sudah masuk ke ponselnya.
Namun keunggulan ini pada saat ini masih menjadi pertanyaan, karena membludaknya pemakaian BB, maka bukan tidak mungkin kalau kemampuan ini akhirnya akan menurun. Pengguna BB akan terseok-seok saat mengunduh data. Jam pasirpun mulai sering menghiasi layar BB kita. Ini adalah kondisi yang sangat mungkin terjadi, karena terus meningkatnya pelanggan BB, persaingan ketat biaya langganan BB dan infrastruktur para provider yang masih seperti ini.
Keterbatasan lebar bandwith tentu menjadi kendala bagi mereka yang suka melakukan pertukaran data dan BB menjawab semua itu dengan kemampuan kompresi data. Namun bila lebar bandwith sudah tidak menjadi kendala, maka BB perlu menyiapkan strategi baru dalam memasarkan produknya.
Sudah menjadi pengetahuan kita bersama, bahwa ponsel cerdas Android mempunyai kendala dalam hal kecepatan akses internet yang masih lamban di negeri ini. Dengan kecepatan akses internet yang lamban, maka semua keunggulan Android seperi hanya menjadi beban saja. Untuk pemakaian yang nyaris sama, biaya pelanggan android masih lebih mahal dibanding pelanggan BB.
Saat akses internet super cepat sudah datang, maka saatnya Android berjaya dan bukan tidak mungkin akan menggusur dominasi BB di tahun-tahun belakangan ini.
Melihat teknologi dan fitur BB yang terkesan tidak rajin melakukan update, maka bukan tidak mungkin saat itu akan seera tiba. Browser BB sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda dilakukan update, isuenya baru akhir tahun ini RIM akan melakukan update browsernya. OS BB 6 memang akan jadi andalan BB tahun 2011, tapi pesaingnya pasti juga tidak akan tinggal diam.
Tentu kita masih ingat saat RAM komputer begitu mahal, jauh lebih mahal dari komponen lainnya dan sekarang RAM komputer menjadi amat sangat murah, jadi bukan tidak mungkin akses internet yang saat ini dirasa lamban akan berubah secara revolusioner menjadi sangat cepat.
Teknologi 4G sudah ada dan sudah siap bertarung dan kalau memang benar-benar keluar ijin penggunaannya, maka bencana untuk RIM mungkin sudah menjadi dekat.
Keunggulan Android
· Multi-Tasking
Berbeda dengan iPhone yang kesulitan dalam melakukan multi-tasking , Android mampu menjalankan beberapa aplikasi sekaligus yang tidak terbatas, baik aplikasi-aplikasi yang berasal dari bawaan sistem atau tambahan dari Android Market. Mendengar musik sambil browsing dan menerima notifikasi dapat dilakukan dengan mudah.
· Home Screen Informatif
Konsep home screen pada Android seperti Windows Mobile di mana segala notifikasi dapat dipantau dari home screen. Namun, Android juga menyediakan tempat bagi widget-widget notifikasi lain untuk berada di home screen. Cara ini memudahkan akses info cepat ketimbang home screen di BlackBerry ataupun iPhone.
· Pilihan Peranti Banyak
Vendor pendukung sistem operasi ini memang banyak. Jadi pilihan perangkat yang bisa kamu pilih beragam dan harganya pun bervariasi.
· Bebas Memodifikasi Sistem
Android mengijinkan kamu untuk melakukan jailbreaking untuk memodifikasi sistem. Selain itu kamu juga bisa melakukan modifikasi pada ROM sistem. Ada beberapa komunitas di internet yang menjadi wadah dan menyediakan customed ROM untuk perangkat Android. Sistem yang dapat dimodifikasi dan diinstal pada ponsel pintar bersistem Android, siapa yang tak ingin?
· Setting yang Mudah
Sistem Android memang diluncurkan demi alasan kemudahan. Pengesetan ponsel berbasis OS ini untuk keperluan sehari-hari sesuai keinginan dan aktivitas pribadi bisa dengan mudah dilakukan. Pengesetan ini bisa dilakukan langsung dengan bantuan widget pada home screen. Kamu juga bisa membuat shortcut khusus untuk setting tertentu untuk dipasang di home screen.
Keunggulan Blackberry dalam segi Push email
· Pengiriman email dan WEB Browsing dengan kompresi yang dilakukan dua kali (content dan komunikasi) sehingga kita bisa mendapatkan push email real time/WEB lebih cepat dan menghemat bandwidth GPRS/EDGE.
· Integrasi dengan Instant Messaging service seperti yahoo messenger dan Gmail Talk.
· Membuka attachment email yang lebih cepat (pengalaman pribadi :) ) dimana akses cepat ini ada hubungannya dengan kompresi yang sangat sempurna dari RIM.
· Security handset yang sangat apik dan terjamin dari level handset (handset Blackberry) sampai dengan layanannya (terkadang jika lupa password untuk untuk unlock handset, handset akan terformat secara otomatis).
Sekarang tinggal anda masing-masing yang menentukan manakah yang lebih unggul diantara keduanya? :D
Jadi pilihan ada ditangan anda
Mesin-Mesin Pembuat Manusia
Dulu, ketika masih melanjutkan studi di Lancaster Inggris, dan mendalami sebuah
bidang yang bernama the social construction of technology, banyak sahabat dan
profesor yang meragukan kalau bidang ini memiliki masa depan yang meyakinkan.
Entah dari mana datangnya keyakinan saat itu, saya cuek saja dengan keraguan
sahabat-sahabat di atas. Sekian tahun setelah semua itu berlalu, ternyata pilihan
saya tidak keliru. Di tahun-tahun terakhir, saya berhadapan dengan antrean panjang
undangan menjadi nara sumber di bidang teknologi informasi (TI). Bukan karena
saya seorang pakar TI, tetapi karena segi sosial dari teknologi menarik minat banyak
sekali orang.
Ini juga terjadi ketika Microsoft Indonesia meluncurkan produk baru mereka dengan
nama Microsoft XP awal Juni 2001. Di depan ratusan pimpinan puncak perusahaan
serta manusia-manusia TI, saya harus bertutur tentang pergeseran-pergeseran
peran TI dalam komunitas manusia. Sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya,
terjadi pergeseran yang amat meyakinkan, dari fungsi TI yang paling tradisional
dalam bentuk supporting function kemudian menuju automating, informating,
reformatting dan kemudian enlightening.
Bagi saya fungsi-fungsi supporting, automating, informating, secara meyakinkan
sedang berlalu dan siap-siap untuk lenyap dari peredaran. Dan tanpa kesadaran
yang meyakinkan, umat manusia sedang diformat ulang (reformatting) oleh TI. Lihat
cara kita bekerja, cara kita hidup, cara anak-anak kita berpacaran, semua dirubah
secara meyakinkan oleh TI.
Saya mengelola sebuah perusahaan dengan dua ribu orang karyawan di Jawa
Tengah dan sebuah perusahaan konsultan di Jakarta, serta melaksanakan tugas
sebagai pembicara publik di banyak kota, plus hobi harus menulis tujuh tulisan dalam
sebulan. Semua itu tidak hanya berjalan relatif tanpa hambatan, tetapi bergerak dari
satu kemajuan menuju kemajuan yang lain.
Di satu kesempatan harus menunaikan tugas sebagai anak yang harus menengok
orang tua di kampung yang tidak dijangkau telepon di Bali Utara sana, toh semua
pekerjaan dan kegiatan di atas bisa berjalan. Tidak ada dunia kiamat kalau kantor
ditinggalkan seminggu lebih. Bahkan kerap tidak ada bawahan yang tahu kalau saya
berada di kampung sana.
Ini baru cara kerja. Cara hidup saya berubah total oleh TI. Menelepon isteri di rumah
– terutama karena hampir setiap minggu terbang meninggalkan Jakarta – hampir
dilakukan setiap hari. Puteri saya kerap mengirim pesan-pesan SMS yang
menyejukkan. Putera saya yang kedua kadang mengirim ‘bunga’ lewat e-mail.
Sebelum pulang melakukan synchronize terhadap personal digital assistant,
kemudian mengerjakan semua sisa e-mail di tengah kemacetan Jakarta. Sehingga
sampai di rumah, kepala sudah kosong dengan pekerjaan, kemudian hanya
memikirkan anak-anak dan anak mertua.
Cara anak-anak kita berpacaran diformat lain lagi oleh teknologi. Dulu, ketika saya
berpacaran dengan seorang wanita yang sekarang sudah menjadi Ibunya anak-anak,
setiap Sabtu malam harus datang bertamu, bercakap-cakap seperlunya denga calon
mertua, dan seterusnya. Sekarang, tidak sedikit anak-anak remaja yang berpacaran
dengan cara chatting. Tidak keluar rumah, hanya duduk di depan komputer, namun jangan pikir tidak ada resiko. Kata-kata yang digunakan, tidak sedikit kata-kata kotor
yang tidak pernah digunakan orang tua mereka dulu.
Dalam totalitas, TI sudah menjadi serangkaian mesin yang sedang membuat kita.
Tanpa kesiapan yang memadai, merekalah yang akan menguasai kita. Bukan tidak
mungkin, kalau suatu saat TI akan menjadi pemerintah komunitas manusia. Dan
celakalah kita dibuat oleh teknologi yang kita buat ini.
Oleh karena kekhawatiran inilah, kemudian saya mengajak banyak sahabat-sahabat
TI untuk masuk ke enlightening function of IT. Di mana, TI tidak saja perlu kita
‘nikahi’, tetapi juga digunakan sebagai sumber-sumber yang bisa mencerahkan
hidup dan kehidupan. Sebut saja situs-situs internet yang mengajarkan Yoga,
meditasi, atau pengetahuan-pengetahuan agama. Dan lebih dari sekadar
menghadirkan pengetahuan-pengetahuan yang mencerahkan, kemanjaankemanjaan
yang dihadirkan TI (sebagai contoh Microsoft XP yang baru diluncurkan),
bisa memberi kita banyak waktu untuk beryoga, meditasi, pergi ke Mesjid, Gereja
atau memberi kita lebih banyak waktu untuk melakukan refleksi.
Saya bisa melakukan meditasi setidak-tidaknya dua kali sehari, menemui anak dan
isteri setiap hari dari tempat yang amat jauh sekalipun, dan bisa mengerjakan
pekerjaan apapun tanpa batas ruang dan waktu yang terlalu mengganggu. Dan
semua itu bisa dilakukan, karena ada dukungan-dukungan TI. Maka dari itulah,
sejalan dengan Compaq yang menempatkan TI sebagai inspiration technology, saya
menempatkannya sebagai enlightening technology. Sebagai kendaraan untuk
mencapai tujuan-tujuan hidup yang mencerahkan. Dengan semakin banyak waktu
untuk keluarga, membaca, bermeditasi, beryoga – dan ini sangat dimungkinkan oleh
kehadiran TI, bukankah hidup dan kehidupan kemudian membawa kemungkinan
pencerahan yang lebih tinggi?. Dan yang lebih penting lagi, dengan cara itu, kita bisa
mengurangi kemungkinan dibuat ulang oleh mesin-mesin yang bernama teknologi.
Menemukan Harta Karun Termahal
Salah satu jenis film tontonan yang kerap saya lihat dulu ketika berumur masih amat
muda, adalah perjalanan sejumlah orang mencari harta karun di tempat yang amat
jauh. Menarik, seru dan menegangkan, itulah alasan kami ketika itu duduk di bioskop
atau di depan tv ber jam-jam. Menarik, karena menghadirkan pengalaman perjalanan
yang disertai pemandangan daerah pedalaman yang indah. Seru, sebab disertai
adegan-adegan yang susah ditebak arahnya. Menegangkan, terutama karena
serangkaian tantangan berat senantiasa menghadang di depan mata.
Ketika itu, tidak pernah terbayangkan sedikitpun kalau perjalanan hidup ini amat
serupa dengan perjalanan mencari harta karun. Menarik, tentu saja karena
pemandangan-pemandangan yang hadir di depan mata demikian bervariasi.
Demikian menarik dan asiknya, sampai-sampai ada banyak sekali orang yang tidak
sadar kalau satu tahun sudah berlalu. Atau tiba-tiba baru sadar kalau umur sudah
tua, terutama setelah melihat putera-puteri beranjak dewasa. Disamping
mengasikkan, ada tidak sedikit manusia yang amat takut kematian. Apa lagi
sebabnya kalau bukan karena daya tarik sang hidup yang demikian memikat.
Disamping menarik, perjalanan sang hidup juga seru, sebab tidak jarang terjadi kita
harus ‘berperang’ dengan banyak kekuatan. Ada perang melawan diri sendiri, ada
perang melawan ketidakjujuran, ada perang melawan ketertindasan, dan masih
banyak lagi perang lainnya. Dan terakhir tentu saja juga menantang, secara lebih
khusus karena tidak seorangpun tahu bagaimana persisnya wajah masa depan.
Tiba-tiba tanpa persiapan memadai ia hadir di depan mata.
Bedanya, kalau dalam film-film di atas, jelas dan tegas harta karunlah yang
digunakan sebagai sasaran buruan. Dalam perjalanan kehidupan, sasaran
buruannya disamping berbeda dari satu orang ke orang yang lain, juga bergerak dan
berubah sejalan dengan kedalaman renungan masing-masing.
Ada memang sekumpulan manusia yang seluruh hidupnya hanya digunakan mencari
harta dan tahta. Dan bahkan sampai di ujung kehidupanpun masih menangisi harta
yang ditinggalkan. Di bagian lain, ada juga manusia yang sama sekali tidak perduli
akan harta dan tahta. Satu-satunya yang ia perdulikan hanyalah perjalanan menuju
Tuhan. Di antara dua kutub ekstrim ini, kadang ada sisa-sisa renungan yang tercecer.
Sekaligus menghadirkan pertanyaan mendasar, apakah yang kita cari dalam
perjalanan hidup yang demikian melelahkan ini?
Bagaimana tidak melelahkan, saya menghabiskan hampir dua puluh tahun duduk di
bangku sekolah formal. Bergelut dengan kehidupan kerja hampir enam belas tahun.
Berkelana dalam kehidupan pernikahan yang banyak godaan telah delapan belas
tahun. Tidak sedikit di antaranya diwarnai air mata kesedihan, perang hati nurani,
bahkan kadang mengancam nyawa. Dalam rangkaian perjalanan seperti ini, sangat
layak kalau bertanya ulang, apa yang kita cari?
Entah sampai di tataran pemahaman mana perjalanan Anda sejauh ini, tetapi
semakin saya selami dan dalami, semakin saya tahu kalau hidup adalah sebuah
perjalanan ke dalam diri. Berbeda dengan harta karun yang harus kita cari, dan
membawa kemungkinan terbukanya sebuah penemuan, harta karun kehidupan ada
pada proses belajar. Ya sekali lagi ada pada proses belajar. Bukan pada tujuan
akhirnya. Ini penting untuk dipahami dan didalami, karena perjalanan menemukan
diri sendiri adalah sejenis perjalanan yang tidak mengenal garis finish.
Karena tidak ada titik akhirnya inilah, maka saya menaruh banyak hormat kepada
sejumlah pilosopi timur yang menekankan pentingnya hidup di hari ini (living in the
now). Tidak sekadar hidup berfoya-foya dan menghabiskan kenikmatan tentunya.
Melainkan, hidup penuh kesadaran dan rasa syukur. Pada kesempatan lain, saya
memang pernah mengutip tingkatan-tingkatan manusia ala seorang sahabat
pengusaha. Dari manusia bodoh, pintar, licik sampai dengan manusia beruntung.
Dan konon manusia beruntunglah yang tidak bisa dikalahkan oleh manusia licik.
Bercermin pada pentingnya hidup penuh kesadaran di hari ini, ada manusia yang
lebih berbahagia dibandingkan manusia yang beruntung, yakni manusia yang tidak
lagi terikat pada apapun. Ketika dipuja karena berada di atas, ia yakin harta dan
tahtalah yang dipuja orang. Tatkala dihina karena jatuh ke lumpur kehidupan,
ketiadaan harta dan tahta yang membuatnya jadi demikian. Dengan kata lain, diri ini
yang sebenarnya tidaklah pernah disentuh pujian dan makian. Oleh karena itu,
kenapa mesti gembira ketika dipuji dan menangis ketika dimaki? Demikianlah pilihan
sikap manusia-manusia langka yang sudah bebas dari keterikatan.
Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa mendikte orang jenis terakhir. Ketika sibuk
dalam kerja ia menikmati kerjanya dengan suka cita. Tatkala PHK menghadang ia
habiskan waktunya untuk belajar pilosopi dan agama. Mana kala anak-anak masih
kecil, kita ajak mereka hidup dalam tawa dan canda. Dan bila mereka sudah besar
dan mandiri, kalau dibantu hidup syukur, kalau tidak dibantu bisa jadi jalan hidup
sudah seperti itu.
Dalam hidup yang tidak lagi dibelenggu keterikatan, yang ada hanyalah kebebasan
dan keikhlasan di depan Tuhan. Entah Anda setuju entah tidak, sampai dengan
perjalanan hidup saya sekarang, inilah berkah dan harta karun terbesar yang pernah
diberikan ke saya. Dengan kerendahan hati di depan Tuhan, saya hanya bisa
berucap lirih: "terima kasih Tuhan!".
Menanam Bunga Perhatian
Dalam sebuah kunjungan ke sebuah panti jompo yang serba kecukupan, Ibu Teresa
pernah memiliki pengalaman yang patut di simak. Kendati kehidupan di panti jompo
ini tergolong lebih dari cukup, semua orang tua yang tinggal di sini, ketika duduk di
ruangan untuk menonton tv, bukannya memandang tv, hampir semua mata menatap
pintu masuk.
Alasan kenapa mereka menatap pintu masuk, karena semuanya berharap akan
dikunjungi oleh anak, keluarga atau saudara yang bisa memberi mereka perhatian.
Membaca pengalaman ini, saya teringat sedih ke Bapak saya yang tinggal di
kampung sana. Di umurnya yang sudah berkepala sembilan, setiap sore setelah
mandi, beliau selalu diminta dipapah dan disediakan kursi untuk duduk di pintu
masuk rumah. Untuk kemudian, menatap setiap orang yang lewat di jalan satu
persatu.
Tetangga saya sebelah rumah di Bintaro Jaya juga demikian. Hampir setiap sore
orang tua yang berjalan dibantu kursi roda ini, duduk di depan rumahnya sambil
memandangi jalan.
Tadinya, saya tidak tahu apa yang mereka fikirkan, tetapi ketika membaca
pengalaman Ibu Teresa di atas, ada semacam perasaan berdosa terhadap Bapak
saya di kampung, demikian juga dengan orang tua sebelah rumah.
Rupanya, mereka amat rindu perhatian. Di umur-umur yang tidak lagi produktif ini,
setangkai bunga perhatian adalah vitamin-vitamin kejiwaan yang amat dibutuhkan.
Yang jelas, siapapun Anda dan di manapun Anda berada, tua muda, di kota maupun
di desa, semua memerlukan perhatian orang lain. Sayangnya, banyak orang yang
amat pelit untuk memberikan bunga perhatian buat orang lain. Tidak sedikit orang,
hanya meminta untuk diberikan bunga terakhir. Padahal, bunga terakhir berharga
tidak mahal. Bahkan, kita tidak membelinya.
Dalam ruang lingkup yang lebih besar, alasan ekonomi biaya tinggi sebagai tameng
ketidakmampuan dalam mensejaterakan karyawan, jauhnya jarak sosial antara
atasan dengan bawahan, tingginya rasio antara gaji orang di puncak dengan orang
di bawah, teganya politisi membunuh orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu,
atau koruptor yang rela mengkorupsi dana untuk rakyat miskin, adalah rangkaian
bukti yang bisa membawa saya pada kesimpulan, betapa langkanya orang dan
pemimpin yang kemana-mana membawa setangkai bunga perhatian.
Memang, ada orang yang memiliki teori, bahwa kalau kita lahir dari masyarakat dan
keluarga yang miskin perhatian, maka kitapun akan terbentuk menjadi manusia yang
miskin perhatian juga.
Inilah problemanya. Jika menunggu sampai masyarakat dan keluarga berubah, atau
organisasi berubah baru kemudian individunya berubah, maka kapan bisa terbentuk
barisan manusia lengkap dengan bunga perhatian yang indah ?
Ibu Teresa tepat sekali ketika menulis : "We must remember that love begins at home, and we
must also remember that the future of humanity passes through The Family".
Ini berarti, bunga perhatian mesti mulai ditanam, dipupuk dan disemai di rumah.
Sebab, dari rumahlah bunga indah ini disebarkan. Kenapa mulai dari rumah, sebab
masa depan kemanusiaan berjalan melalui institusi keluarga.
Bercermin dari sini, kadang saya dihinggapi perasaan berdosa. Sebab, semenjak
merangkap menjadi eksekutif, konsultan, pembicara publik dan penulis, sering kali
meninggalkan rumah pada hari Senen pagi dan pulang Jumat malam. Kendati setiap
hari saya menelepon ke rumah, merayu isteri beberapa menit, bercanda dengan
anak-anak, minta dibelikan oleh-oleh apa, dan seterusnya, tetapi tetap ada sesuatu
yang kurang.
Putera saya yang bungsu, sering kali meminta makan di pangkuan saya tatkala saya
juga makan. Wika puteri semata wayang saya, semangat sekali setiap kali saya
sampai di rumah. Adi, putera kedua saya, sering kali merengek ke supir agar diajak
ikut menjemput saya di bandar udara. Semua itu, membuat perasaan berdosa dalam
diri ini. Bagaimanakah saya akan menanam bunga perhatian dalam keluarga yang
amat saya cintai ini? Kadang, saya berharap memiliki waktu empat puluh delapan
jam sehari. Sempat teringat petuah teman untuk meningkatkan kualitas bukan
kuantitas hubungan dengan anak. Atau mengkompensasinya dengan materi.
Akan tetapi, tetap tidak bisa memberikan kompensasi. Apapun bayarannya, setiap
anak mendambakan Papanya ikut bermain dengan mereka. Menaikkan layanglayang
yang ingin diterbangkan. Menendang bola yang gawangnya mereka jaga.
Menggambarkan kelinci dalam kertas yang anak-anak sediakan.
Menjemput puteri saya di sekolah yang sedang sombong-sombongnya memamerkan
Papanya serta mobilnya, mengantar Adi berenang, menaikkan layang-layang, serta
bermain game sepuasnya, atau mengajak Komang berjalan-jalan dan menjawab
semua keingintahuannya, atau menemani isteri sehari penuh dan memenuhi
keinginannya, adalah serangkaian mimpi yang jarang bisa saya penuhi. Serangkaian
kegiatan, yang sebenarnya bisa membuat pohon bunga perhatian tumbuh di manamana
di rumah.
Sering kali saya dibuat iri oleh tetangga yang amat rajin menemani anaknya naik
sepeda berkeliling komplek. Ada juga yang setiap pagi memandikan anjing
kesayangan sang anak, menuntun anak sampai gerbang sekolah, mengajari mereka
naik sepeda. Lebih iri lagi, kalau di bandar udara saya bertemu seorang suami yang
menggandeng isterinya dengan penuh kemesraan.
Semacam lahan subur untuk bunga perhatian, bukankah akan membahagiakan
sekali jika kita bekerja di sebuah organisasi yang diisi oleh manusia-manusia yang
saling memperhatikan? *****
Kendaraan Menuju Kebahagiaan
Salah satu dari sangat sedikit buku yang saya baca pelan-pelan sampai habis adalah
buku Dalai Lama bersama Howard C. Cutter yang berjudul The Art of Happiness.
Awalnya, buku ini saya baca secara cepat. Akan tetapi, semakin diselami, ia seperti
menghadirkan kedamaian tersendiri. Seperti berhadapan dengan manusia dengan
tantangan yang amat besar - bayangkan negerinya dianeksasi Cina dalam waktu
yang lama - namun masih bisa menyebut diri berbahagia.
Lama sempat saya dibuat tercenung oleh tokoh perdamaian terakhir. Dan
merasakan sendiri, betapa kecilnya saya di hadapan 'raksasa' kehidupan sehebat
Dalai Lama. Di manapun kita bertemu tokoh ini, di televisi, di media cetak atau di
hampir semua kesempatan, kita senantiasa bertemu dengan mimik muka yang serba
tersenyum. Padahal, kehidupannya - sebagaimana dituturkan Cutter - tidak sedikit
yang ditandai oleh banjir kesedihan.
Ada seorang rahib Tibet yang disiksa dalam tahanan Cina selama lebih dari dua
puluh tahun. Orang tua yang menangis karena anaknya dididik di sekolah yang
menginjak-injak ajaran dan keyakinan orang Tibet. Bayangkan, bangsa Tibet yang
dalam waktu amat lama meyakini tidak boleh membunuh segala sesuatu yang
bernyawa, tiba-tiba generasi mudanya disuruh membunuh binatang setiap kali pergi
ke sekolah. Dan semakin besar hasil bunuhannya, maka semakin besar juga nilainya
di sekolah. Belum lagi penghancuran tempat-tempat suci bangsa Tibet.
Dirangkum menjadi satu, kehidupan seorang Dalai Lama ditandai oleh banjir
bandang kesedihan yang demikian dahsyat. Kalau orang biasa seperti saya
mengalaminya, mungkin ceritanya menjadi amat lain. Sehingga menimbulkan
pertanyaan besar bagi saya, apa kendaraan dahsyat yang bisa membawa Dalai
Lama sampai dalam tataran kebahagiaan yang sekarang? Sampai sekarangpun
saya masih meraba-raba. Yang jelas, sebagai manusia yang hidup di zaman ini,
tidak sedikit orang menggunakan materi dan hal-hal eksternal lain sebagai
kendaraan menuju kebahagiaan. Perlombaan materi terjadi di mana-mana.
Lomba model terakhir, tidak hanya monopoli orang kota. Di desapun perlombaan
terjadi. Dari perlombaan materi sampai dengan perlombaan 'spiritual'. Terutama,
melalui perlombaan mau disebut paling mengetahui, paling peka dengan sinyalsinyal
Tuhan dan sejenisnya. Bahkan di pojokan tertentu kehidupan beragama juga
terjadi perlombaan. Kasus pembunuhan antarumat di Maluku, demikian juga di
Yugoslavia hanyalah sebagian kecil dari demikian banyak kasus lomba mau disebut
lebih benar. Maka jadilah kita sekumpulan manusia yang menempatkan 'perlombaan'
sebagai kendaraan menuju kebahagiaan. Kalau ukurannya adalah pembunuhan
yang tidak pernah berhenti, kesengsaraan yang meningkat terus, atau kebencian
meningkat serta kasih sayang yang menyusut, maka boleh dikatakan bahwa
'perlombaan' sebagai kendaraan menuju kebahagiaan telah gagal membawa kita ke
sana.
Sebagai orang yang hadir di banyak kesempatan, sering kali saya bertemu manusia
yang kesepian di keramaian. Atau kelaparan di tengah kekayaan materi yang
melimpah. Atau malah dihimpit kebencian di tempat ibadah yang suci dan mulia. Dan
secara jujur harus saya katakan ke Anda, sayapun kadang-kadang ditulari penyakit
serupa. Serta membuat saya bertanya, dalam struktur sosial seperti apakah kita ini
sedang hidup?
Seorang sahabat sekaligus guru yang sering memberi inspirasi ke saya pernah
bertutur, dunia pencerahan baru kita temukan kalau kita mulai menemukan orang
Kristen di Masjid, saudara-saudara Muslim di Vihara, sahabat-sahabat beragama
Budha di Pura, atau penganut Hindu di Gereja. Tentu saja maksudnya bukan
kehadiran fisik. Namun kehadiran secara persahabatan. Terutama, persahabatan
dalam kedamaian dan kebahagiaan. Kalau masih kita merasakan permusuhan dan
perlombaan kebenaran di tempat ibadah, saya mau bertanya: masihkah kita layak
untuk berdoa dari tempat suci ini? Kembali ke soal awal tentang kendaraan menuju
kebahagiaan, bercermin dari ini semua, banyak orang menyimpulkan bahwa
perlombaan materi, maupun perlombaan kebenaran, bukanlah kendaraan yang tepat
dalam hal ini. Bahkan, telah terbukti menjerumuskan kemanusiaan ke dalam lembah
dalam dan mengerikan.
Lantas punyakah kita kendaraan alternatif?
Bercermin dari kehidupan mulia Dalai Lama, rupanya beliau telah lama tidak
menggunakan kendaraan sebagaimana disebutkan di atas. Dengan perjalanannya
keliling dunia, bertutur serta berceramah tentang perdamaian ke siapa saja yang
mau mendengarkan, bersahabat dengan musuh yang menganeksasi negerinya, ia
sedang menunjukkan ke kita tentang kendaraan beliau yang amat lain. Di sebuah
kesempatan ia pernah bertanya ke seorang rahib Budha yang baru saja keluar dari
penjara Cina selama puluhan tahun. Ketika ditanya, bahaya terbesar yang dihadapi
ketika rahib tadi berada di penjara, ia menjawab sederhana: kehilangan rasa
perdamaian dengan bangsa Cina. Anda bebas menyimpulkan semua pengalaman ini,
namun bagi saya ia memberi inspirasi tentang kendaraan sebagai sarana menuju
kebahagiaan. Rupanya, kualitas rangkulan kita bersama kehidupan dan orang lain,
bisa menjadi kendaraan menuju kebahagiaan, yang jauh lebih memadai
dibandingkan kendaraan manapun. Anda punya kendaraan lain?
Mengubah Cacian Jadi Kekaguman
MENJADI besar tanpa penderitaan sekaligus cacian orang, itulah kemauan banyak
sekali anak muda. Dan kalau memang kehidupan seperti itu ada, tentu ada terlalu
banyak manusia yang juga menginginkannya. Sayangnya wajah kehidupan seperti
ini tidak pernah ada. Sehingga jadilah cita-cita menjadi besar tanpa penderitaan
hanya sebagai khayalan manusia malas yang tidak pernah mencoba.
Ini serupa dengan khayalan seorang sahabat Amerika yang bertanya: kenapa Yesus
tidak lahir di Amerika di abad ke-21 ini? Rekan lainnya sesama Amerika menimpali
sambil bercanda: memangnya ada wanita Amerika yang masih perawan? Namanya
juga canda, tentu tidak disarankan untuk memikirkannya terlalu serius. Apalagi
tersinggung. Namun bercanda atau tidak, serius atau sangat serius, kisah-kisah
manusia kuat dan terhormat hampir semuanya berisi kisah-kisah penuh cacian
sekaligus penderitaan. Sebutlah deretan nama-nama mengagumkan seperti Nelson
Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama. Semuanya dibikin kuat
sekaligus terhormat oleh penderitaan.
Mandela menjadi kuat dan terhormat karena puluhan tahun dipenjara, disakiti serta
diasingkan. Sekarang, ia tidak saja dihormati dan disegani namun juga menjadi
modal demokrasi yang mengagumkan bagi Afrika Selatan. Gandhi besar dan
menjulang karena terketuk amat dalam hatinya oleh kesedihan akibat diskriminasi
dan penjajahan. Dan yang lebih mengagumkan, tatkala perjuangannya berhasil, ia
menolak memetik buah kekuasaan dari hasil perjuangannya yang panjang, lama
sekaligus mengancam nyawa.
Dalai Lama apa lagi. Di umur belasan tahun kehilangan kebebasan. Menginjak umur
dua puluhan tahun kehilangan negara. Dan sampai sekarang sudah hidup di
pengungsian selama tidak kurang dari empat puluh lima tahun. Setiap hari menerima
surat sekaligus berita menyedihkan tentang Tibet. Lebih dari itu, negaranya Tibet
sampai sekarang kehilangan banyak sekali hal akibat masuknya pemerintah Cina.
Namun sebagaimana sudah dicatat rapi oleh sejarah, daftar-daftar kesedihan Dalai
Lama ini sudah berbuah teramat banyak. Menerima hadiah nobel perdamaian di
tahun 1989. Setiap kali berkunjung ke negara-negara maju disambut lebih meriah
dari penyanyi rock yang terkenal. Karya-karyanya mengubah kehidupan demikian
banyak orang. Sampai dengan julukan banyak sekali pengagumnya yang
menyimpulkan kalau Dalai Lama hanyalah seorang living Buddha.
Hal serupa juga terjadi dengan tokoh wanita mengagumkan bernama Evita Peron.
Belum berumur sepuluh tahun keluarganya berantakan karena ayahnya meninggal.
Kemudian menyambung kehidupan dengan cara menjadi pembantu rumah tangga.
Bosan jadi pembantu kemudian menjadi penyanyi bar. Dan bahkan sempat diisukan
miring dalam dunia serba gemerlap ini. Pernikahannya dengan Juan Peron tidak
mengakhiri penderitaan, malah menambah panjangnya aliran sungai air mata.
Namun kehidupan Evita Peron demikian bercahaya. Tidak saja di Argentina ia
bercahaya, di dunia ia juga bercahaya.
Salah satu guru meditasi mengagumkan di Amerika bernama Pema Chodron. Tidak
saja bahasanya sederhana, pengungkapan idenya juga mendalam. Namun
kekaguman seperti ini juga berawal dari kesedihan mendalam. Sebagaimana yang ia
tuturkan dalam When Things Fall Apart, perjalanan kejernihan Pema Chodron mulai
dengan sebuah kesedihan yang tidak terduga: suaminya mengaku jatuh cinta pada
wanita lain dan minta segera cerai. Bagi seorang wanita setia, tentu saja ini seperti petir di siang bolong. Namun betapa menyakitkan pun beritanya, hidup harus tetap
berjalan.
Dari sinilah ia belajar meditasi dari Chogyam Trungpa. Dan ini juga yang
membukakan pintu kehidupan yang mengagumkan belakangan. Sehingga di salah
satu bagian buku tadi, Chodron secara jujur mengungkapkan kalau mantan
suaminya yang di awal seperti mencampakkan hidupnya, ternyata seorang pembuka
pintu kehidupan yang mengagumkan.
Cerita Thich Nhat Hanh lain lagi. Tokoh perdamaian asli Vietnam ini mengalami
banyak sekali pengalaman getir ketika perang Vietnam. Kalau soal hampir mati, atau
hampir diterjang peluru panas sudah biasa. Namun tatkala membawa misi
perdamaian ke Amerika, ternyata pemerintah Vietnam melarangnya kembali ke
Vietnam. Dan sejak puluhan tahun yang lalu Thich Nhat Hanh bermukim di Prancis.
Dan penderitaan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam ini juga yang membuat
nama Hanh demikian dikenal dan menjulang. Pernah dinominasikan sebagai
pemenang hadiah Nobel perdamaian, dihormati di banyak sekali negara, dan karyakaryanya
lebih dari sekadar mengagumkan.
Daftar panjang tokoh-tokoh kuat sekaligus terhormat, yang dibuat besar oleh
penderitaan dan cacian orang masih bisa diperpanjang. Namun semua ini sedang
membukakan pintu kehidupan yang amat berguna: penderitaan dan cacian orang
ternyata sejenis vitamin jiwa yang membuatnya jadi menyala. Ini mirip sekali dengan
judul sebuah buku indah yang berbunyi: Pain, the Gift that Nobody Want. Rasa sakit,
penderitaan, cacian orang hampir semua manusia tidak menghendakinya. Tidak saja
lari jauh-jauh, bahkan sebagian lebih doa manusia memohon agar dijauhkan dari
penderitaan, cacian sekaligus rasa sakit.
Namun daftar panjang kisah manusia seperti Dalai Lama, Pema Chodron sampai
dengan Thich Nhat Hanh ternyata bertutur berbeda. Hanya manusia-manusia yang
penuh kesabaran dan ketabahan untuk tersenyum di tengah cacian dan penderitaan,
kemudian jiwanya menyala menerangi kehidupan banyak sekali orang.
Ternyata, penderitaan dan cacian orang – di tangan manusia-manusia sabar dan
tabah – bisa menjadi bahan-bahan yang memproduksi kekaguman orang kemudian.
Persoalannya kemudian, di tengah-tengah sebagian lebih wajah kehidupan yang
serba instant, punyakah kita cukup banyak kesabaran dan ketabahan?
Kekayaan Manusia Yang Terbesar
SEORANG sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi bangun, berangkat ke kantor,
pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di
kulit, kemudian bertanya: untuk apa hidup ini? Ada juga orang tua yang sudah benarbenar
lelah mengungsi (kecil mengungsi di rumah orang tua, dewasa mengungsi ke
lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah sakit), dan juga bertanya serupa.
Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup memang bermacam-macam.
Ada
yang mencari kekayaan, ada yang mengejar keterkenalan, ada yang lapar dengan
kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai
mengorbankan hampir segala-galanya. Dan tentu saja sudah menjadi hak masingmasing
orang untuk memilih jalur bagi diri sendiri.
Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau
berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam). Pedagang, pengusaha, pegawai,
pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak
sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian
bahkan mengambil jalan-jalan pintas.
Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti.
Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Dengan
kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di jalan-jalan kehidupan. Dan
soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia
memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan,
jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi. Namun, salah seorang orang
bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan: contentment is the greatest
wealth.
Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di zaman yang serba penuh dengan
hiruk pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar,
tentu bisa dikira dan dituduh miring.
Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai
antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Cuma, bagi
setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur
"cukup", segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang
terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja.
Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui
hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan
lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan
rasa cukup.
Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk
dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun
rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan
kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga
serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia mudah terhubung ketika
rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan
banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak teman.
Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih
sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan.
Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, manusia seperti terlempar
dengan nyaman ke sarang laba-laba kehidupan.
Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari,
dll) serba terhubung, sekaligus menyediakan rasa aman nyaman di sebuah titik
pusat. Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda. Dan setiap pencarian
kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia
terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik pusat, tidak ada putaran.
Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi
yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati,
hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan.
Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini.
Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Dan ini bisa ditemukan
orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta
rasa cukup di lain sisi.
Bila orang-orang seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang
suatu waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar
mengagumkan di dalam.
Biasa tampak luarnya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi,
karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan
akan penilaian orang lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus
bodoh pun tidak ada masalah.
Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama Susana Tamaro. Dalam
novel indahnya berjudul 'pergi ke mana hati membawamu' ia kurang lebih menulis:
kata-kata ibarat sapu.
Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana.
Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata
lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya
menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu).
Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa
menimbulkan dampak negatif.
Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum Trungpa, di salah satu
karyanya yang mengagumkan (Shambala, The sacred path of the warrior), ia
menulis: this basic wisdom of Shambala is that in this world, as it is, we can find a good and
meaningful human life that will also serve others. That is our richness. Itulah kekayaan yang
mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang
seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan
bermakna buat pihak lain. ***
Hadiah Terbaik Untuk Diri Sendiri
Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada masa sulit
dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau kehidupan pribadi yang
diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau masa-masa sulit ini bukanlah
keadaan yang diinginkan. Sebagian orang bahkan berdoa, agar sejarang mungkin
digoda oleh keadaan-keadaan sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan
hidup ala anak-anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencangkencangnya
dari godaan hidup sulit.
Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap akan menyentuh
badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus datang berkunjung. Rumus besi
kehidupan seperti ini, memang berlaku pada semua manusia, bahkan juga berlaku
untuk seorang raja dan penguasa yang paling berkuasa sekalipun.
Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika kesulitan datang
berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk kesulitan. Tidak dibuat sakit
dan frustrasi saja saya sudah sangat bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti
inilah yang datang ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah
ketinggian. Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan kita
tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah kehidupan, maka
seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya modal berguna dalam hal ini.
Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. Dan
sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, kesulitan memang
terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, dihajar oleh palu besar,
kencangnya cubitan tang, menyakitkannya goresan-goresan amplas kasar, atau
malah tidak enaknya bau cat yang menyelimuti selu! ruh badan patung logam.
Semua tahu, kalau badan dan jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang
lebih indah dari sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan
mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan.
Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada mahluk yang
amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman-pengalaman menyakitkan ini,
ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat fasih memberikan nasehat. Tetapi
dengan kesediaannya untuk mendengar, sinaran mata yang berisi empati, kesediaan
untuk menjaga rahasia, sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam
keadaan-keadaan ini.
Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari segi
pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia bersekolah dulu
sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari sekolah yang terlalu
membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan hidupnya kadang
mengagumkan.
Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya baik ketika
dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga menelpon, mengirim SMS dan
bahkan menyempatkan diri berkunjung ke rumah. Tidak untuk memberikan ceramah,
hanya untuk mendengar. Seorang sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa
teknologi informasi bahkan mengatakan bangga menjadi sahabat saya.
Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di Surabaya menelepon,
tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata indah Confucius 'Manusia salah
itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu baru luar biasa'.
Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah hadiah
paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. Secara lebih khusus
ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. Sehingga patut direnungkan, kalau
kita perlu menabung perhatian, empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk
berdagang dengan kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi
kelak. Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia
persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, setiap sahabat
yang memberi perhatian dan empati pada sahabat lainnya, ketika itu juga mengalami
the joy of giving. Ketika itu juga seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh
beratnya.
Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana namanya
dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang banyak ini kemudian
bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan inilah, maka saya lebih
memusatkan diri untuk mencari dan membina sahabat.
Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih sedikit dari jumlah
jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, sahabat tetap sejenis hadiah terbaik
yang bisa kita bisa berikan buat diri sendiri.
Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan
gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal
sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang mentereng juga
bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik mobil mewah, rumah mewah
maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati yang menyentuh hati
Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang
memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden direktur di
sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung menelepon saya dari
tempat yang jauh. Ia berucap sederhana: 'saya bangga jadi teman Anda'. Inilah
hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga
tidak hanya datang ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang
ketika kita amat membutuhkannya.
Tindakan Kecil Tidak Dikenal
Di kota Liverpool Inggris, tempat John Lennon melahirkan kelompok musik yang
pernah merubah sejarah dunia, saya pernah mengalami sebuah pengalaman
kemanusiaan yang amat menyentuh. Setelah antre cukup lama di kantor imigrasi,
guna memperpanjang visa isteri saya, lebih-lebih setelah mendengar orang di
antrean depan ditanya dan dimaki sana-sini, hati ini sempat kecut juga. Belum lagi
ditambah dengan stok tiket return yang batasnya hari itu juga. Plus tidak ada uang
untuk menyewa hotel kalau terpaksa menginap. Begitu cekaknya keuangan,
bekalpun membawa dari kota Lancaster yang berjarak sekitar empat jam perjalanan
kereta api.
Sesampai di depan petugas, saya terangkan maksud kedatangan saya. Ketika
petugas tahu, bahwa visa yang mau diperpanjang adalah visa isteri, ia bertanya
apakah saya membawa akte pernikahan. Busyet, saya lupa membawanya. Kalaupun
saya bawa, pasti ia tidak mengerti karena dalam bahasa melayu.
Saya sudah siap-siap mental dimaki sebagaimana orang Pakistan di depan, atau
disuruh kembali lain waktu. Tiba-tiba saja saya ingat lagu John Lennon yang berjudul
Imagine, yang bertutur mengenai mimpi John tentang kehidupan manusia yang
tanpa agama, bangsa dan atribut lain yang memisahkan.
Di tengah lamunan akan John Lennon tadi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh suara
petugas imigrasi yang menemukan kata Bali sebagai tempat lahir isteri saya di
pasport. Dengan ekspresi yang amat bersahabat ia bertanya, di bagian mana dari
Bali ia lahir, apakah kami sekeluarga senang tinggal di Inggris, dan sederetan
pertanyaan yang sangat menghibur.
Ketika saya tanya balik, kenapa ia demikian bersahabat setelah tahu kami dari Bali,
petugas tadi menceritakan pengalaman pribadinya yang pernah ditolong orang Bali,
ketika mengalami kecelakaan saat berwisata di pulau dewata ini. Singkat cerita,
semua urusan menjadi beres hanya karena ada kata Bali di pasport.
Mirip dengan pengalaman di Liverpool, di Manchester saya juga pernah
diselamatkan nasib baik. Setelah menempuh penerbangan dari Paris yang
melelahkan, saya ikuti saja antrean manusia yang ada di depan guna diperiksa
imigrasi. Setelah pegal berdiri setengah jam, dan akan memperoleh giliran bertatap
muka dengan petugas imigrasi, baru saya tahu walau saya antre di tempat yang
keliru. Sebagai warga Indonesia, saya antre di tempat yang ditujukan untuk warga
masyarakat Eropa.
Padahal, pesawat berikut ke tempat lain mesti take off kurang dari sejam lagi.
Saya sudah pasrah, what will be, will be. Pertama-tama, tentu saja petugasnya
cemberut melihat tampang saya. Lebih-lebih setelah melihat passport yang berisi
gambar burung garuda. Namun, karena kesabaran petugas, dibuka juga itu passport
sambil bertanya, di mana saya tinggal selama di Inggris. Setelah saya jawab dengan
sebutan desa Galgate di pinggiran kota kecil Lancaster, tiba-tiba wanita di depan
saya wajahnya sumringah. Dengan akrab dia bercerita tempat lahirnya.
Penduduk desa kecil yang amat bersahabat. Buah apel yang bisa dipetik siapa saja
oleh penduduk desa Galgate. Orang-orang tua jompo yang penuh senyum dan
persahabatan tanpa pamrih dan masih banyak lagi yang lain. Dan, tiba-tiba saja petugas imigrasi ini minta saya menunggu sebentar, sementara ia pergi membawa
passport saya ke counter lain.
Tidak lebih dari tiga menit, ia sudah mengembalikan passport saya lengkap dengan
stempel imigrasi. Sambil berpesan: sampaikan salam kangen saya buat penduduk
desa Galgate.
Boleh percaya boleh tidak, saya mengalami kejadian-kejadian seperti ini, dalam
frekuensi yang cukup sering. Sejumlah rekan Tionghoa yang mengerti petunjuk hoki,
menyebut saya manusia hoki karena bentuk hidung, telinga dan dagu yang cocok
dengan ciri-ciri hoki. Sebagai manusia biasa, saya memang memiliki banyak
kekurangan. Disebut sering suka cerita yang porno dan jorok. Suka 'ngompol'
(ngomong politik).
Berteriak kalau lagi marah besar di rumah. Wika, Adi dan Suci adalah manusiamanusia
yang paling tahu daftar kekurangan saya. Akan tetapi, sejak umur yang
sangat kecil, saya dibiasakan oleh seorang kakak, untuk mengumpulkan daftar
tindakan-tindakan kecil yang tidak bernama.
Tidak dikenal. Tidak dihitung. Namun, berguna buat alam dan orang lain.
Bukan pada tempatnya, kalau saya membeberkan daftar tindakan-tindakan saya di
kolom ini. Yang jelas, ada semacam kesegaran dalam jiwa, sesaat setelah
melakukan tindakan-tindakan tidak dikenal dan tidak bernama. Kepala yang pusing,
tiba-tiba jadi membaik. Kantong cekak yang membuat dahi berkerut, berubah
menjadi ucapan terimakasih ke Tuhan. Isteri yang tadinya kelihatan seram jadi
lembut dan cantik.
Banyak hal bisa berubah setelah melakukan tindakan-tindakan model terakhir.
Saya tidak tahu, apa ini sebuah sugesti, atau ada tangan-tangan kekuatan alam
yang membuatnya demikian. Yang jelas, alam bisa demikian perkasa dan bertahan
lama, karena bergerak dalam siklus memberi, memberi dan memberi. Rumput hijau
memberi kesejukan. Matahari membawa energi. Air menghadirkan kehidupan.
Adakah mereka membutuhkan imbalan lebih?
Belajar dari ini semua, saya berusaha untuk mematikan keran di tempat umum yang
lupa ditutup orang lain. Membukakan pintu ke orang lain yang tidak dikenal di lokasilokasi
publik. Mengembalikan posisi pohon yang roboh. Mengubur kucing yang mati
digilas mobil orang.
Terbang Bersama Keheningan
BERAT, itulah kata yang bisa mewakili tantangan hidup kekinian. Orang miskin
dihadang penyakit di sana-sini. Orang kaya alisnya dibikin berkerut oleh berbagai
masalah. Sebagian malah sudah dipenjara, sebagian lagi menuggu giliran untuk
beristirahat di tempat yang sama. Manusia biasa menggendong berbagai beban ke
sana ke mari (dari mencari nafkah, menyekolahkan anak sampai dengan
mempersiapkan hari tua), pejabat maupun pengusaha juga serupa: senantiasa
ditemani masalah kemanapun ia pergi. Di desa banyak orang mengeluh, luas tanah
tetap namun jumlah manusia senantiasa tambah banyak. Sehingga setiap tahun
memunculkan tantangan penciptaan lapangan kerja. Bila tidak terselesaikan ia bisa
lari kemana-mana. Dari kejahatan sampai dengan kekerasan.
Digabung menjadi satu, jadilah kehidupan berwajah serba berat di sana-sini. Tidak
saja di negara berkembang, di negara maju sekali pun tantangannya serupa.
Kemajuan ekonomi Jepang yang demikian fantastis tidak bisa mengerem angka
bunuh diri. Kemajuan peradaban Amerika tidak membuat negara ini berhenti menjadi
konsumen obat tidur per kapita paling tinggi di dunia. Jangankan berbicara negeri
Afrika seperti Botswana. Rata-rata harapan hidup hanya 30-an tahun. Orang dewasa
di sana lebih dari 80 persen positif terjangkit HIV. Sehingga menimbulkan pertanyaan,
"Demikian beratkah beban manusia untuk hidup?"
Ada sahabat yang menghubungkan beratnya hidup manusia dengan hukum
gravitasinya Newton yang berpengaruh itu. Sudah menjadi pengetahuan publik,
kalau Newton menemukan hukum ini ketika duduk di bawah pohon apel, dan tibatiba
buahnya jatuh.
Sehingga Newton muda berspekulasi ketika itu, ada serangkaian hukum berat (baca:
gravitasi) yang membuat semua benda jatuh ke bawah. Sahabat ini bertanya lebih
dalam, "kalau gravitasi yang menarik apel jatuh ke bawah, lantas hukum apa yang
membawanya naik ke puncak pohon apel?" Dengan jernih ia menyebut "The law of
levitation" (hukum penguapan). Kalau gravitasi menarik apel ke bawah, penguapan
menariknya ke arah atas.
Dalam bahasa yang lugas sekaligus cerdas, sahabat ini mengaitkan kedua hukum
fisika ini ke dalam dua hukum kehidupan: "Hate is under the law of gravity, love is
under the law of levitation." Kebencian berkait erat dengan gravitasi karena mudah
sekali membuat manusia hidup serba berat dan ditarik ke bawah. Cinta berkaitan
dengan gerakan-gerakan ke atas. Karena hanya cinta yang membuat manusia
ringan dan terbang ke atas. Sungguh sebuah bahan renungan kehidupan yang
cerdas dan bernas.
Kembali ke soal hidup manusia yang serba berat, tidak ada manusia yang bebas
sepenuhnya dari masalah. Bahkan ada yang menyederhanakan kehidupan dengan
sebuah kata: penderitaan! Hanya saja kebencian berlebihan yang membuat semua
ini menjadi semakin berat dan semakin berat lagi. Ada yang benci pada diri sendiri,
ada yang membenci orang tua, suami, istri, teman, tetangga, atasan kerja, sampai
dengan ada yang membenci Tuhan.
Perhatikan wajah-wajah manusia kekinian yang miskin senyum, yang mudah
tersinggung, yang senantiasa minta diperhatikan, penerimaan bulanan yang serba
kurang, dan masih bisa ditambah lagi dengan yang lain. Semuanya berakar pada
yang satu: kebencian! Sehingga mudah dimengerti kalau perjalanan hidup seperti
buah apel, semakin tua semakin berat dan semakin ditarik ke bawah.
Terinspirasi dari sinilah, kemudian sejumlah guru mengurangi sesedikit mungkin
berjalan dalam hidup dengan beban-beban kebencian. Dan mencoba menarik
kehidupan ke atas menggunakan sayap-sayap cinta. Semua perjalanan cinta mulai
dari sini: mencintai kehidupan. Makanya sahabat-sahabat penekun meditasi
Vipasana berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas. Tidak saja karena membuat
manusia mudah terhubung dengan hidup, tetapi berpelukan penuh cinta dengan
kehidupan. Dan segelintir penekun Vipasana yang telah berjalan amat jauh,
kemudian mengalami cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmik yang ditandai oleh
terlihatnya keindahan di mana-mana. Karena semuanya terlihat serba indah, tidak
ada lagi dorongan untuk mencari jawaban. Bahkan pertanyaan sekalipun sudah
lenyap dari kepala. Ini yang disebut seorang guru dengan terbang bersama
keheningan.
Ada yang menyebut ini dengan emptiness. Sebuah terminologi timur yang amat
susah untuk dijelaskan dengan kata-kata manusia. Namun Dainin Katagiri dalam
Returning to Silence, menyebutkan: "The final goal is that we should not be
obsessed with the result, whether good, bad or neutral." Keseluruhan upaya untuk
tidak terikat dengan hasil. Itulah keheningan. Sehingga yang tersisa persis seperti
hukum alam: kerja, kerja dan kerja. Dalam kerja seperti ini, manusia seperti matahari.
Ditunggu tidak ditunggu, besok pagi ia terbit. Ada awan tidak ada awan, matahari
tetap bersinar. Disukai atau dibenci, sore hari dimana pun ia akan terbenam.
Mirip dengan matahari yang tugasnya berbeda dengan awan dan bintang. Kita
manusia juga serupa. Pengusaha bekerja di perusahaan. Penguasa bekerja di
pemerintahan. Pekerja bekerja di tempat masing-masing. Penulis menulis. Pertapa
bertapa. Pencinta yoga beryoga. Pengagum meditasi bermeditasi. Semuanya ada
tempatnya masing-masing. Ada satu hal yang sama di antara mereka: "Menjadi
semakin sempurna di jalan kerja". Soal hasil, sudah ada kekuatan amat sempurna
yang sudah mengaturnya. Keinginan apalagi kebencian, hanya akan membuatnya
jadi berat dan terlempar ke bawah.
Merendah Itu Indah
Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia. Demikian baiknya
turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan kesempatan untuk
memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya meninggal di Indonesia, dan sudah
teramat sering ditipu orang, maka iapun meminta untuk melihat dulu baik surga
maupun neraka. Ketika memasuki surga, ia bertemu dengan pendeta, kiai dan
orang-orang baik lainnya yang semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di
neraka lain lagi, ada banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik dan seksi
lagi bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka jauh
lebih dipenuhi hiburan dibandingkan surga.
Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan untuk
tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika sampai di neraka.
Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya.
Maka proteslah dia pada petugas neraka yang asli Indonesia ini. Dengan tenang
petugas terakhir menjawab: 'kemaren kan hari terakhir pekan kampanye pemilu".
Dengan jengkel turis tadi bergumam: 'dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya,
Tuhannya saja tidak bisa dipercaya!'.
Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini hanya
lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan (trust) telah menjadi
komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri tercinta ini. Dan
sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di mana kepercayaan itu
mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan keluar amat dan teramat sulit.
Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan ribuan
tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau kepercayaan tidak
ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit, berujung dengan adu
mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang cemburu.
Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi kanker yang
demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula dari sini. Buruh yang
mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga diawali dari sini. Apa lagi krisis
perbankan yang memang secara institusional bertumpu pada satu-satunya modal :
trust capital.
Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada siklus
ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada Bambang.
Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan. Inilah
lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah krisis.
Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus perburuhan
seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung pangkal, ini tidaklah
diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila saja. Kita semua sedang
memproduksi diri seperti itu.
Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh
ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya :
tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja: bagaimanakah reaksi
Anda? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan
jawabannyapun amat beragam.
Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, 'seperti sentimen, benci, dan sejenisnya
', menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin
peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi
diri dengan pikiran-pikiran positif 'sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari
segi baiknya' menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan
rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran
yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk
tanaman halaman rumah yang memerlukannya.
Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif
dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian
persoalan manapun 'termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila' bisa cepat bisa
lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan
berkuasa dalam pikiran kita.
Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara menjadi lain,
setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan
pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul
di luar kesadaran.
Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan sepeda motor
yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki,
stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama
bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat
wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut
sebagai pengkondisian yang mematikan.
Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan yang paling
menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana pengalaman Anda,
namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya
untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air
sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani
merendah.
Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke Tuhan, saya
telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan
ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya,
Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya
peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.
Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak- injak orang.
Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan
kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang
pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin
Dranath Tagore : 'kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati'. ***
About Me
Labels
- Kehidupan (15)
- Kesehatan (6)
- Kesuksesan (10)
- Senyum (4)
- Seputar blackberry (3)
- Seputar Otak (4)
Entri Populer
-
Chatting di BBM memang menyenangkan, tambah menyenangkan lagi bila kita bisa menambahkan berbagai emoticon atau simbol-simbol lucu saat chat...
-
Pernyataan John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup sa...
-
Kamu akan membeli sebuah Blackberry? lalu bingung karena tidak mengetahui bagaimana sih Blackberry yang asli itu? Jangan-jangan nanti yang k...




