Makin Tinggi Sekolahnya Makin Kuat Tahan Sakit
Jakarta, Ketika mengalami kecelakaan dan harus dibawa ke rumah sakit, pasien biasanya diberikan obat-obatan untuk menahan rasa sakit. Orang-orang yang berpendidikan tinggi dengan penghasilan yang lebih besar umumnya dianggap lebih membutuhkan obat penahan rasa sakit ini. Tapi ternyata justru sebaliknya.
Para peneliti dari Department of Anesthesiology, University of North Carolina menemukan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan, makin sedikit rasa sakit yang dirasakan. Di saat yang sama, makin banyak penghasilan yang diperoleh, maka obat penahan sakit yang digunakan juga makin sedikit.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pain ini mencoba menghubungkan antara sensasi rasa sakit, kebutuhan akan obat pennghilang rasa sakit dengan status sosial ekonomi. Dengan menganalisis data 690 orang pasien kecelakaan mobil berusia antara 18 - 65 tahun di 8 rumah sakit yang berbeda, para peneliti menilai kondisi sosial ekonomi pasien dan meninjau pendapatan serta tingkat pendidikannya.
Penelitian menyimpulkan bahwa pasien yang lebih terdidik lebih sedikit merasakan sakit dan lebih tidak takut mati. Pasien yang lebih terdidik juga lebih subjektif dalam mengekspresikan rasa sakitnya dan tidak membesar-besarkan rasa sakit. Hasilnya, mereka lebih sedikit mendapat obat penghilang rasa sakit atau analgesik.
"Penelitian kami menyimpulkan bahwa pendidikan yang tinggi bukan hanya berarti tingkat penghasilan yang lebih tinggi, tetapi juga berarti lebih jarang mengeluh tentang penyakitnya," kata peneliti, Timothy F. Platts-Mills seperti dilansir epharmapedia.com, Senin (12/3/2012).
80 persen pasien mengaku merasakan nyeri dalam taraf sedang sampai berat. Para petugas medis di IGD meresepkan penghilang nyeri untuk 54 persen pasien lulusan SMA. Sedangkan pasien lulusan universitas yang diresepkan obat penghilang rasa nyeri hanya sebesar 10 persen.
Dalam sampel penelitian, pasien yang lebih berpendidikan ditemukan lebih sedikit menerima suntikan obat bius. Namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggeneralisasi temuan ini dan menentukan hal yang menyebabkan perbedaan tersebut.
Sumber Putro Agus Harnowo - detikHealth
Baca selengkapnya......
Sehatkah Makan Ikan Setiap Hari?
Jakarta, Saya punya hobi setiap hari selalu makan ikan, karena sudah jadi kebiasaan dari kecil. Pertanyaan saya, sehatkah makan ikan setiap hari? Apakah ada efek buruknya? Terimakasih.
Qosim (Laki-laki Lajang, 21 Tahun), qosimXXXX@ymail.com,
Tinggi Badan 169 Cm, Berat Badan 55 Kg
Jawaban
Halo Qosim,
Ikan adalah salah satu sumber protein yang baik karena mengandung asam lemak tak jenuh dan juga merupakan sumber omega-3. Akan tetapi dengan seiring berkembangnya pengetahuan akan ikan, tidak disarankan untuk memakan ikan laut (terutama ikan laut dalam) setiap hari karena mengandung merkuri dan metal lainnya yang menjadi polusi laut.
Merkuri dan metal yang tertimbun dalam ikan tidak dapat hilang dengan proses dimasak. Jenis-jenis ikan yang dikategorikan mengandung merkuri tinggi termasuk swordfish, ikan hiu, mackerel, tuna dan kerapu.
Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Menjadi Orang Tua Paling Tepat Saat Usia 30-an Tahun
California, Makin kerasnya tuntutan ekonomi saat ini membuat beberapa pasangan lebih memilih mempunyai anak di usia tua. Kebanyakan orang yang memiliki anak pertama saat mencapai usia 40 tahun berpendapat bahwa waktu terbaik untuk punya anak adalah 5 - 10 tahun sebelumnya.
Peserta penelitian menyatakan bahwa menjadi orang tua di usia senja memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan kerugian. Tetapi ketika ditanya mengenai usia optimal untuk memiliki anak, 80% perempuan dan 70% laki-laki menjawab di usia 30-an. Kebanyakan di antara mereka mengaku bahwa keadaan lah yang menghalangi mereka untuk dapat memiliki anak di usia 30 tahun.
Penelitian ini dilakukan oleh University of California, San Francisco terhadap 107 orang kulit putih yang telah menikah dengan tingkat pendapatan menengah ke atas. Para peneliti mengatakan bahwa untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya mencakup kelompok yang lebih beragam dan harus menindaklanjuti orang tua yang anaknya telah mencapai usia remaja.
Peneliti mewawancarai 46 pasangan dan 15 wanita lajang yang telah menggunakan prosedur bayi tabung agar dapat hamil untuk pertama kalinya saat berusia 40 tahun lebih. Pengguna prosedur bayi tabung dipilih karena kebanyakan di antaranya memiliki kemungkinan hamil yang sangat kecil. Para peserta diberi pertanyaan mengenai apa keuntungan dan kerugian menjadi orang tua pada usia yang relatif senja.
"Sebagian besar wanita dan pria dalam penelitian yakin bahwa menunda mengasuh anak memiliki lebih banyak keuntungan bagi mereka dan keluarga," kata para peneliti seperti dilansir FoxNews, Senin (12/3/2012).
Menurut 72% wanita dan 57% pria peserta penelitian, keuntungan terbesarnya adalah lebih siap secara emosional untuk menjadi orangtua. Keuntungan lainnya adalah mencapai karier yang tinggi, fleksibilitas dalam pekerjaan, keamanan finansial yang lebih besar dan hubungan dengan pasangan atau keluarga yang lebih kuat.
Dalam artikel yang dimuat jurnal Human Reproduction, beberapa pria mengatakan menjadi orang tua tua pada usia yang lebih tua membuat mereka memiliki lebih banyak waktu sebagai orangtua daripada ketika masih muda. Namun perempuan cenderung mengatakan bahwa mereka ingin memiliki anak lebih awal dan bertemu pasangannya lebih cepat.
Para peserta juga mengatakan bahwa mereka yakin akan memiliki lebih banyak energi sebagai orangtua jika masih muda. Lebih dari sepertiga wanita dan seperempat pria dalam penelitian mengatakan kerugian menjadi orang tua ketika usia senja adalah berkurangnya kekuatan fisik.
Kerugian lain adalah khawatir akan kondisi kesehatannya sehingga dapat hidup cukup lama untuk melihat anak-anaknya menjadi dewasa dan memiliki keluarga yang lebih kecil daripada yang pernah diimpikan.
"Menjadi orang tua di usia 30-an menggambarkan adanya kompromi antara manfaat finansial dan emosional menjadi orangtua di usia tua dan kerugian karena berkurangnya energi fisik," kata peneliti.
Sumber Detik Health
About Me
Labels
- Kehidupan (15)
- Kesehatan (6)
- Kesuksesan (10)
- Senyum (4)
- Seputar blackberry (3)
- Seputar Otak (4)
Entri Populer
-
Chatting di BBM memang menyenangkan, tambah menyenangkan lagi bila kita bisa menambahkan berbagai emoticon atau simbol-simbol lucu saat chat...
-
Pernyataan John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup sa...
-
Kamu akan membeli sebuah Blackberry? lalu bingung karena tidak mengetahui bagaimana sih Blackberry yang asli itu? Jangan-jangan nanti yang k...


